Setan dalam menggoda manusia memiliki berbagai macam strategi, dan yang sering dipakai adalah dengan memanfaatkan hawa nafsu, yang memang memiliki kecenderungan mengajak kepada keburukan (ammaratun bis su’). Setan tahu persis kecenderungan nafsu kita, dia terus berusaha agar manusia keluar dari garis yang telah ditentukan Allah, termasuk melepaskan hijab atau pakaian muslimah. Berikut ini tahapan-tahapannya.
***
Menghilangkan Definisi Hijab
Dalam tahap ini setan membisikkan kepada para wanita, bahwa pakaian apapun termasuk hijab (penutup) itu tidak ada kaitannya dengan agama, ia hanya sekedar pakaian atau mode hiasan bagi para wanita. Jadi tidak ada pakaian syar’i, pakaian ya pakaian, apa pun bentuk dan namanya.
Sehingga akibatnya, ketika zaman telah berubah, atau kebudayaan manusia telah berganti, maka tidak ada masalah pakaian ikut ganti juga. Demikian pula ketika seseorang berpindah dari suatu negeri ke negeri yang lain, maka harus menyesuaikan diri dengan pakaian penduduknya, apapun yang mereka pakai.
Berbeda halnya jika seorang wanita berkeyakinan, bahwa hijab adalah pakaian syar’i (identitas keislaman), dan memakainya adalah ibadah bukan sekedar mode. Biar pun hidup kapan saja dan di mana saja, maka hijab syar’i tetap dipertahankan.
Apabila seorang wanita masih bertahan dengan prinsip hijabnya, maka setan beralih dengan strategi yang lebih halus. Caranya?
Pertama, Membuka Bagian Tangan. Telapak tangan mungkin sudah terbiasa terbuka, maka setan membisikkan kepada para wanita agar ada sedikit peningkatan model yakni membuka bagian hasta (siku hingga telapak tangan). “Ah tidak apa-apa, kan masih pakai jilbab dan pakai baju panjang? Begitu bisikan setan. Dan benar sang wanita akhirnya memakai pakain model baru yang menampakkan tangannya, dan ternyata para lelaki yang melihatnya juga biasa-biasa saja. Maka setan berbisik,” Tuh tidak apa-apa kan?
Kedua, Membuka Leher dan Dada. Setelah menampakkan tangan menjadi kebiasaan, maka datanglah setan untuk membisikkan hal baru lagi. “Kini buka tangan sudah lumrah, maka perlu ada peningkatan model pakaian yang lebih maju lagi, yakni terbuka bagian atas dada kamu.” Tapi jangan sebut sebagai pakaian terbuka, hanya sekedar sedikit untuk mendapatkan hawa, agar tidak gerah. Cobalah! Orang pasti tidak akan peduli, sebab hanya bagian kecil saja yang terbuka.
Maka dipakailah pakaian model baru yang terbuka bagian leher dan dadanya dari yang model setengah lingkaran hingga yang model bentuk huruf “V” yang tentu menjadikan lebih terlihat lagi bagian sensitif lagi dari dadanya.
Ketiga, Berpakian Tapi Telanjang. Setan berbisik lagi, “Pakaian kok hanya gitu-gitu saja, cari model atau bahan lain yang lebih bagus! Tapi apa ya? Sang wanita bergumam. “Banyak model dan kain yang agak tipis, lalu bentuknya dibuat yang agak ketat biar lebih enak dipandang,” setan memberi ide baru.
Maka tergodalah si wanita, dicarilah model pakaian yang ketat dan kain yang tipis bahkan transparan. “Nggak apa-apa kok, kan potongan pakaiannya masih panjang, hanya bahan dan modelnya saja yang agak berbeda, biar nampak lebih feminin,” begitu dia menambahkan. Walhasil pakaian tersebut akhirnya membudaya di kalangan wanita muslimah, makin hari makin bertambah ketat dan transparan, maka jadilah mereka wanita yang disebut oleh Nabi sebagai wanita kasiyat ‘ariyat (berpakaian tetapi telanjang).
Keempat, Agak di Buka Sedikit. Setelah para wanita muslimah mengenakan busana yang ketat, maka setan datang lagi. Dan sebagaimana biasanya dia menawarkan ide baru yang sepertinya segar dan enak, yakni dibisiki wanita itu, “Pakaian seperti ini membuat susah berjalan atau duduk, soalnya sempit, apa nggak sebaiknya di belah hingga lutut atau mendekati paha?” Dengan itu kamu akan lebih leluasa, lebih kelihatan lincah dan enerjik.”
Lalu dicobalah ide baru itu, dan memang benar dengan dibelah mulai bagian bawah hingga lutut atau mendekati paha ternyata membuat lebih enak dan leluasa, terutama ketika akan duduk atau naik ke jok mobil. “Yah tersingkap sedikit nggak apa-apa lah, yang penting enjoy,” katanya.
Inilah tahapan awal setan merusak kaum wanita, hingga tahap ini pakaian masih tetap utuh dan panjang, hanya model, corak, potongan dan bahan saja yang dibuat berbeda dengan hijab syar’i yang sebenarnya. Maka kini mulailah setan pada tahapan berikutnya.
***
Terbuka Sedikit Demi Sedikit
Kini setan melangkah lagi, dengan trik dan siasat lain yang lebih ampuh, tujuannya agar para wanita menampak kan bagian aurat tubuhnya.
Pertama, Membuka Telapak Kaki dan Tumit. Setan Berbisik kepada para wanita, “Baju panjang benar-benar membuat repot, kalau hanya dengan membelah sedikit bagiannya masih kurang leluasa, lebih enak kalau di potong saja hingga atas mata kaki.” Ini baru agak longgar. “Oh ada yang kelupaan, kalau kamu bakai baju demikian, maka jilbab yang besar tidak cocok lagi, sekarang kamu cari jilbab yang kecil agar lebih serasi dan gaul, toh orang tetap menamakannya dengan jilbab.”
Maka para wanita yang terpengaruh dengan bisikan ini buru-buru mencari model pakaian yang dimaksudkan. Tak ketinggalan sepatu hak tinggi, yang kalau untuk berjalan mengeluarkan suara yang menarik perhatian orang.
Kedua, Membuka Seperempat Hingga Separuh Betis. Terbuka telapak kaki telah biasa ia lakukan, dan ternyata orang-orang yang melihat juga tidak begitu peduli. Maka setan kembali berbisik, “Ternyata kebanyakan manusia menyukai apa yang kamu lakukan, buktinya mereka tidak bereaksi apa-apa, kecuali hanya beberapa orang. Kalau langkah kakimu masih kurang leluasa, maka cobalah kamu cari model lain yang lebih enak, bukankah kini banyak rok setengah betis dijual di pasaran? Tidak usah terlalu mencolok, hanya terlihat kira-kira sepuluh senti saja.” Nanti kalau sudah terbiasa, baru kamu cari model baru yang terbuka hingga setengah betis.”
Benar-benar bisikan setan dan hawa nafsu telah menjadi penasehat pribadinya, sehingga apa yang saja yang dibisikkan setan dalam jiwanya dia turuti. Maka terbiasalah dia memakai pakaian yang terlihat separuh betisnya kemana saja dia pergi.
Ketiga, Terbuka Seluruh Betis. Kini di mata si wanita, zaman benar-benar telah berubah, setan telah berhasil membalikkan pandangan jernihnya. Terkadang sang wanita berpikir, apakah ini tidak menyelisihi para wanita di masa Nabi dahulu. Namun buru-buru bisikan setan dan hawa nafsu menyahut, “Ah jelas enggak, kan sekarang zaman sudah berubah, kalau zaman dulu para lelaki mengangkat pakaiannya hingga setengah betis, maka wanitanya harus menyelisihi dengan menjulurkannya hingga menutup telapak kaki, tapi kini lain, sekarang banyak laki-laki yang menurunkan pakaiannya hingga bawah mata kaki, maka wanitanya harus menyelisihi mereka yaitu dengan mengangkatnya hingga setengah betis atau kalau perlu lebih ke atas lagi, sehingga nampak seluruh betisnya.”
Tetapi, apakah itu tidak menjadi fitnah bagi kaum laki-laki,” gumamnya. “Fitnah? Ah itu kan zaman dulu, di masa itu kaum laki-laki tidak suka kalau wanita menampakkan auratnya, sehingga wanita-wanita mereka lebih banyak di rumah dan pakaian mereka sangat tertutup. Tapi sekarang sudah berbeda, kini kaum laki-laki kalau melihat bagian tubuh wanita yang terbuka malah senang dan mengatakan ooh atau wow, bukankah ini berarti sudah tidak ada lagi fitnah, karena sama-sama suka? Lihat saja model pakaian di sana-sini, dari yang di emperan hingga yang yang bermerek kenamaan, seperti Kristian Dior, semuanya menawarkan model yang dirancang khusus untuk wanita maju di zaman ini. Kalau kamu tidak mengikuti model itu akan menjadi wanita yang ketinggalan zaman.”
Demikianlah, maka pakaian yang menampakkan seluruh betis biasa dia kenakan, apalagi banyak para wanita yang memakainya dan sedikit sekali orang yang mempermasalahkan itu. Kini tibalah saatnya setan melancarkan tahap terakhir dari siasatnya untuk melucuti hijab wanita.
***
Serba Mini
Setelah pakaian yang menampak kan betis menjadi pakaian sehari-hari dan dirasa biasa-biasa saja, maka datanglah bisikan setan yang lain. “Pakaian membutuhkan variasi, jangan itu-itu saja, sekarang ini modelnya rok mini, dan agar serasi rambut kepala harus terbuka, sehingga benar-benar kelihatan indah.”
Maka akhirnya rok mini yang menampakkan bagian bawah paha dia pakai, bajunya pun bervariasi, ada yang terbuka hingga lengan tangan, terbuka bagian dada sekaligus bagian punggung nya dan berbagai model lain yang serba pendek dan mini. Koleksi pakaiannya sangat beraneka ragam, ada pakaian pesta, berlibur, pakaian kerja, pakaian resmi, pakaian malam, sore, musim panas, musim dingin dan lain-lain, tak ketinggalan celana pendek separuh paha pun dia miliki, model dan warna rambut juga ikut bervariasi, semuanya telah dicoba.
Begitulah sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan, ternyata kalau sudah dihiasi oleh setan, maka segalanya menjadi serba mungkin dan diterima oleh manusia. Hingga suatu ketika, muncul ide untuk mandi di kolam renang terbuka atau mandi di pantai, dimana semua wanitanya sama, hanya dua bagian paling rawan saja yang tersisa untuk ditutupi, kemaluan dan buah dada. Mereka semua mengenakan pakaian yang sering disebut dengan “bikini”. Karena semuanya begitu, maka harus ikut begitu, dan na’udzu billah bisikan setan berhasil, tujuannya tercapai, “Menelanjangi Kaum Wanita.” Selanjutnya terserah kamu wahai wanita, kalian semua sama, telanjang di hadapan laki-laki lain, di tempat umum. Aku berlepas diri kalau nanti kelak kalian sama-sama di neraka. Aku hanya menunjukkan jalan, engkau sendiri yang melakukan itu semua, maka tanggung sendiri semua dosamu.” Setan tak mau ambil resiko.
***
Demikian halus, cara yang digunakan setan, sehingga manusia terjerumus dalam dosa tanpa terasa. Maka hendaklah kita semua, terutama orangtua jika melihat gejala menyimpang pada anak-anak gadis dan para wanita kita sekecil apapun, segera secepatnya diambil tindakan. Jangan biarkan berlarut-larut, karena kalau dibiarkan dan telah menjadi kebiasaan, maka sangat sulit bagi kita untuk mengatasinya.
Membiarkan mereka membuka aurat berarti merelakan mereka mendapatkan laknat Allah, kasihanilah mereka, selamatkan para wanita muslimah, jangan jerumuskan mereka ke dalam kebinasaan yang menyeng-sarakan, baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a’lam bis shawab.
Referensi : Kitab “At ta’ari asy syaithani”, Adnan ath-Thursyah, disadur dengan bebas. [alsofwah.or.id]
Kamis, 25 November 2010
Untuk Calon Istri Menjadi Istri Solehah
Asma’ binti Kahariyah Fazari diriwayatkan telah berkata kepada puterinya dihari pernikahan anaknya itu:
“Hai anakku, kini engkau kan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenal dan berkawan pula dengan orang yang belum engkau kenali. Itulah suamimu.
Jadilah engkau tanah bagai suamimu (taati perintahnya) dan ia akan menjadi langit bagimu (tempat bernaung). Jadilah engkau sebagai lantai supaya ia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebani dia dengan pelbagai kesukaran karena itu akan memungkinkan ia meninggalkanmu.
Janganlah engkau terlampau menjauhinya, agar ia tidak melupaimu. Sekiranya dia menjauhimu, maka jauhilah dia dengan baik. Peliharalah suamimu itu dengan baik. Jagalah mata, hidung dan anggotanya yang lain.
Janganlah kiranya suamimu itu akan mencium sesuatu darimu melainkan yang harum. Jangan pula ia mendengar sesuatu darimu melainkan yang enak dan janganlah ia melihatkan melainkan yang indah sahaja pada dirimu. “
Kalau wanita ingin menjadi isteri yang baik, dipihak lelaki juga berhasrat memiliki wanita yang begitu. Mereka (para suami) ingin benar punya isteri yang menyambut kepulangan dari tempat kerja dengan wajah yang manis dan ceria, senyum menawan, pakaian yang bersih dan wangi dan rumahtangga pula berada dalam keadaan bersih kemas dan terurus. Bila mata sedap memandang, tenang dan damailah hati suami.
Bukan itu saja suami juga bercita-cita memiliki seorang isteri yang boleh menjadi penghibur dirinya, boleh berkongsi masalah dengannya, faham apa yang disenangi, tahu mengambil hati suaminya disamping boleh memberi layanan-layanan yang menyenangkan dan mengembirakan suami. Itulah wanita idaman setiap lelaki. Pendek kata bagaimana lelaki akan dilayani oleh bidadari di syurga kelak begitu jugalah keinginan lelaki berhajatkan layanan dari seorang isteri seorang bidadari rumahtangga. Oleh sebab itu dikatakan rumahtangga yang bahagia itu ialah syurga tentulah ada bidadarinya. Siapa lagi kalau bukan isteri yang solehah yang layak menyandang gelaran bidadari dunia.
Isteri yang solehah akan berusaha memberi wajah jernih pada rumahtangga. Kasih sayang yang lahir adalah hasil dari masing-masing hendak mencari keridhaan Allah, bukannya dorongan nafsu semata- mata. Masing-masing suami isteri meletakkan Allah dan akhirat yang lebih besar dan utama.
Isteri yang solehah tidak terasa hina menjadi pelayan suami, malah sebaliknya rasa bangga dan bahagia kalau boleh melakukan tugas-tugas itu dengan baik dan sempurna. Gembira kerana yakin dengan janji Allah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah S.A.W yang bermaksud:
“Apabila seorang perempuan mencuci pakaian suaminya, maka Allah mencatat baginya seribu kebaikan dan mengampuni dua ribu kesalahan dosanya, bahkan segala sesuatu yang disinari oleh matahari memohon ampun baginya serta Allah mengangkat seribu darjat baginya.”
“Wahai Fatimah, setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan membina tujuh parit antara dirinya dengan api neraka. Jarak antara parit itu ialah sejauh bumi dangan langit.”
“Wahai Fatimah, setiap wanita yang berair matanya ketika memotong bawang untuk menyediakan makanan keluarganya, Allah akan mencatat untuknya pemberian sebanyak yang diberi kepada mereka yang menangis kerana takutkan Allah.”
Siapa yang tidak mau kemuliaan ini hanya dengan melakukan tugas yang ringan? Seorang isteri yang solehah akan sentiasa mencari-cari jalan untuk menyenangkan hati suami dan menutupi ruang-ruang untuk menyusahkan dan mencurigakan suami terhadap dirinya. Dia tidak akan membimbangkan suaminya terhadap dirinya. Maruah dirinya sebagai seorang isteri senantiasa dipelihara dan dijaga kerana itu juga yang menjadi syarat untuk dia mendapat keredhaan Allah dan keselamatan di akhirat nanti.Setiap rumahtangga yang dihuni oleh isteri yang solehah bererti rumahtangga itu telah memiliki perbendaharaan yang termahal di dunia dan di sisi Allah rumahtangga itu mendapat perhatianNya.
Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud : ” Seorang wanita yang solehah itu lebih baik daripada seribu orang lelaki yang tidak soleh dan seorang perempuan yang berkhidmat melayani suaminya selama seminggu maka ditutuplah daripadanya tujuh pintu neraka dan dibukakan lapang pintu syurga dan dia bebas masuk dari pintu mana yang disukainya tanpa hisab.”
Isteri solehah biasanya menjadi milik lelaki yang soleh. Tetapi ada juga ketikanya isteri solehah bersuamikan lelaki yang toleh (jahat). Bolehkan kedamaian dan keamanan wujud dalam rumahtangga bilamana suami kufur dengan Allah dan buruk akhlak terhadap isterinya?. Isteri yang menghadapi persoalan begini boleh tertekan jiwanya. Ada yang tidak sabar dengan kerenah suami hingga tidak terfikir cara lain untuk menyelamatkan jalan hidup yang dipilihnya melainkan berpisah saja dari suami.
Dalam hal sebegini, si isteri perlu banyak bersabar dan selalu bermunajat pada Allah. Ingatlah mungkin kesusahan yang kita hadapi adalah ujian dari Allah S.W.T. Ada dua maksud Allah mendatangkan ujian yaitu pertamanya ujian itu didatangkan sebagai penghapusan dosa dan keduanya untuk peningkatan drajat disisi Allah.
Jadi jika kita boleh bersabar maka terhapuslah dosa-dosa yang lalu. Sebaliknya tidak mustahil juga itu merupakan peningkatan darjat dari Allah. Kalau tidak diuji, mungkin hati kita akan terpaut benar dengan suami, menyayangi suami lebih dari Allah. Jadi untuk melihat sama ada kita membesarkan suami atau membesarkan Allah maka Allah timpakan ujian itu. Kalau benar hati sayang dan takut pada Allah tentu isteri tidak teragak-agak untuk bertindak membesarkan dan menyayangi Allah daripada suaminya sendiri.
Ingatlah, sejahat-jahat suami kita, tidaklah dia lebih jahat daripada Firaun, sedangkan isteri Firaun, Siti Asiah boleh bersabar menghadapi kesombongan dan keangkuhan Firaun sehinggakan Siti Asiah disenaraikan oleh Allah termasuk di dalam barisan antara wanita-wanita solehah yang dijamin syurga.
Oleh itu kalau suami kita masih belum diberi petunjuk janganlah kita jemu untuk memujuk dan mentarbiah, berlaku baik dan paling penting mohon dan bermunajatlah kepada Allah agar Allah mengubah hatinya untuk tunduk pada perintahNya.
Rasulullah S.A.W pernah bersabda : “Wanita yang taat akan suaminya semua burung-burung diudara, ikan- ikan di air, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana ia (isteri) masih taat pada suaminya dan diredhai (serta menjaga sembahyang dan puasanya).”
“Hai anakku, kini engkau kan keluar dari sarang di mana engkau dibesarkan. Engkau akan berpindah ke sebuah rumah dan hamparan yang belum engkau kenal dan berkawan pula dengan orang yang belum engkau kenali. Itulah suamimu.
Jadilah engkau tanah bagai suamimu (taati perintahnya) dan ia akan menjadi langit bagimu (tempat bernaung). Jadilah engkau sebagai lantai supaya ia dapat menjadi tiangnya. Jangan engkau bebani dia dengan pelbagai kesukaran karena itu akan memungkinkan ia meninggalkanmu.
Janganlah engkau terlampau menjauhinya, agar ia tidak melupaimu. Sekiranya dia menjauhimu, maka jauhilah dia dengan baik. Peliharalah suamimu itu dengan baik. Jagalah mata, hidung dan anggotanya yang lain.
Janganlah kiranya suamimu itu akan mencium sesuatu darimu melainkan yang harum. Jangan pula ia mendengar sesuatu darimu melainkan yang enak dan janganlah ia melihatkan melainkan yang indah sahaja pada dirimu. “
Kalau wanita ingin menjadi isteri yang baik, dipihak lelaki juga berhasrat memiliki wanita yang begitu. Mereka (para suami) ingin benar punya isteri yang menyambut kepulangan dari tempat kerja dengan wajah yang manis dan ceria, senyum menawan, pakaian yang bersih dan wangi dan rumahtangga pula berada dalam keadaan bersih kemas dan terurus. Bila mata sedap memandang, tenang dan damailah hati suami.
Bukan itu saja suami juga bercita-cita memiliki seorang isteri yang boleh menjadi penghibur dirinya, boleh berkongsi masalah dengannya, faham apa yang disenangi, tahu mengambil hati suaminya disamping boleh memberi layanan-layanan yang menyenangkan dan mengembirakan suami. Itulah wanita idaman setiap lelaki. Pendek kata bagaimana lelaki akan dilayani oleh bidadari di syurga kelak begitu jugalah keinginan lelaki berhajatkan layanan dari seorang isteri seorang bidadari rumahtangga. Oleh sebab itu dikatakan rumahtangga yang bahagia itu ialah syurga tentulah ada bidadarinya. Siapa lagi kalau bukan isteri yang solehah yang layak menyandang gelaran bidadari dunia.
Isteri yang solehah akan berusaha memberi wajah jernih pada rumahtangga. Kasih sayang yang lahir adalah hasil dari masing-masing hendak mencari keridhaan Allah, bukannya dorongan nafsu semata- mata. Masing-masing suami isteri meletakkan Allah dan akhirat yang lebih besar dan utama.
Isteri yang solehah tidak terasa hina menjadi pelayan suami, malah sebaliknya rasa bangga dan bahagia kalau boleh melakukan tugas-tugas itu dengan baik dan sempurna. Gembira kerana yakin dengan janji Allah sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah S.A.W yang bermaksud:
“Apabila seorang perempuan mencuci pakaian suaminya, maka Allah mencatat baginya seribu kebaikan dan mengampuni dua ribu kesalahan dosanya, bahkan segala sesuatu yang disinari oleh matahari memohon ampun baginya serta Allah mengangkat seribu darjat baginya.”
“Wahai Fatimah, setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan membina tujuh parit antara dirinya dengan api neraka. Jarak antara parit itu ialah sejauh bumi dangan langit.”
“Wahai Fatimah, setiap wanita yang berair matanya ketika memotong bawang untuk menyediakan makanan keluarganya, Allah akan mencatat untuknya pemberian sebanyak yang diberi kepada mereka yang menangis kerana takutkan Allah.”
Siapa yang tidak mau kemuliaan ini hanya dengan melakukan tugas yang ringan? Seorang isteri yang solehah akan sentiasa mencari-cari jalan untuk menyenangkan hati suami dan menutupi ruang-ruang untuk menyusahkan dan mencurigakan suami terhadap dirinya. Dia tidak akan membimbangkan suaminya terhadap dirinya. Maruah dirinya sebagai seorang isteri senantiasa dipelihara dan dijaga kerana itu juga yang menjadi syarat untuk dia mendapat keredhaan Allah dan keselamatan di akhirat nanti.Setiap rumahtangga yang dihuni oleh isteri yang solehah bererti rumahtangga itu telah memiliki perbendaharaan yang termahal di dunia dan di sisi Allah rumahtangga itu mendapat perhatianNya.
Sabda Rasulullah S.A.W yang bermaksud : ” Seorang wanita yang solehah itu lebih baik daripada seribu orang lelaki yang tidak soleh dan seorang perempuan yang berkhidmat melayani suaminya selama seminggu maka ditutuplah daripadanya tujuh pintu neraka dan dibukakan lapang pintu syurga dan dia bebas masuk dari pintu mana yang disukainya tanpa hisab.”
Isteri solehah biasanya menjadi milik lelaki yang soleh. Tetapi ada juga ketikanya isteri solehah bersuamikan lelaki yang toleh (jahat). Bolehkan kedamaian dan keamanan wujud dalam rumahtangga bilamana suami kufur dengan Allah dan buruk akhlak terhadap isterinya?. Isteri yang menghadapi persoalan begini boleh tertekan jiwanya. Ada yang tidak sabar dengan kerenah suami hingga tidak terfikir cara lain untuk menyelamatkan jalan hidup yang dipilihnya melainkan berpisah saja dari suami.
Dalam hal sebegini, si isteri perlu banyak bersabar dan selalu bermunajat pada Allah. Ingatlah mungkin kesusahan yang kita hadapi adalah ujian dari Allah S.W.T. Ada dua maksud Allah mendatangkan ujian yaitu pertamanya ujian itu didatangkan sebagai penghapusan dosa dan keduanya untuk peningkatan drajat disisi Allah.
Jadi jika kita boleh bersabar maka terhapuslah dosa-dosa yang lalu. Sebaliknya tidak mustahil juga itu merupakan peningkatan darjat dari Allah. Kalau tidak diuji, mungkin hati kita akan terpaut benar dengan suami, menyayangi suami lebih dari Allah. Jadi untuk melihat sama ada kita membesarkan suami atau membesarkan Allah maka Allah timpakan ujian itu. Kalau benar hati sayang dan takut pada Allah tentu isteri tidak teragak-agak untuk bertindak membesarkan dan menyayangi Allah daripada suaminya sendiri.
Ingatlah, sejahat-jahat suami kita, tidaklah dia lebih jahat daripada Firaun, sedangkan isteri Firaun, Siti Asiah boleh bersabar menghadapi kesombongan dan keangkuhan Firaun sehinggakan Siti Asiah disenaraikan oleh Allah termasuk di dalam barisan antara wanita-wanita solehah yang dijamin syurga.
Oleh itu kalau suami kita masih belum diberi petunjuk janganlah kita jemu untuk memujuk dan mentarbiah, berlaku baik dan paling penting mohon dan bermunajatlah kepada Allah agar Allah mengubah hatinya untuk tunduk pada perintahNya.
Rasulullah S.A.W pernah bersabda : “Wanita yang taat akan suaminya semua burung-burung diudara, ikan- ikan di air, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana ia (isteri) masih taat pada suaminya dan diredhai (serta menjaga sembahyang dan puasanya).”
Selasa, 23 November 2010
Carcinoma Cervix
Menurut hasil study yang aku ikuti, Dr.H.A.Iskandar Nawawie Sp. OG bilang... ternyata,
Kanker Cervix adalah kanker yang berawal dari leher rahim. Sebelum menjadi sel kanker, sel normal akan mengalami perubahan mnjadi CIN (Cervicl Intraepithelial Neoplasma).
CIN sendiri terbagi menjadi 3: CIN 1, CIN 2, CIN 3/CIS (Carcinoma Insitu)
- Stadium awal -------> tanpa gejala, biasanya :
Sebagai pemeriksaan penunjang sebaiknya di lakukan
Untuk saat ini yang dapat di lakukan yaitu dengan
- Laser
- Konisasi
- Hysterectomy
- Radikal Hysterectomy
- Radiasi eksternal
" Kanker Leher / Mulut Rahim " (Carcinoma Cervix)
- Merupakan kanker terbanyak.
- Penyebab terbanyak kematian wanita
- Tahun 2004 sekitar 3900 wanita meninggal, dan 85% diantaranya tidak Pap Smear
- Transmisi Veneral dari H.P.V (Human Papiloma Virus)
- Screening Pap Smear ----> menurunkan angka kematian hingga 50%
Definisi
Kanker Cervix adalah kanker yang berawal dari leher rahim. Sebelum menjadi sel kanker, sel normal akan mengalami perubahan mnjadi CIN (Cervicl Intraepithelial Neoplasma).
CIN sendiri terbagi menjadi 3: CIN 1, CIN 2, CIN 3/CIS (Carcinoma Insitu)
Etiologi / Faktor Resiko
- Sebab langsung belum diketahui
- Erat hubungannya dengan faktor extrinsik.
- Kawin usia sangat muda (< 16 Tahun)
- Multi Paritas
- Sosial ekonomi Rendah / Hygiene Jelek
- Gonta - ganti pasangan
- Wanita yang mengalami infeksi H.P.V
- Suami tidak Circumcisi (Sunat)
- Imunitas menurun
Gejala Klinik
- Stadium awal -------> tanpa gejala, biasanya :
- Keputihan terus menerus
- Pendarahan diluar menstruasi
- Kemeng / Nyeri pada perut bawah
- Nafsu makan menurun, BB menurun
- Nyeri pinggang
- Kaki bengkak sebelah
- Pendarahan pervaginam banyak
Stadium / Klaifikasi klinis
- Stadium O (CIN III)
- Stadium 1 ---> Terbatas di mulut / leher rahim
- Stadium 2 ---> Menjalar ke vagina bawah, dinding panggul bebas.
- Stadium 3 ---> Menjalar ke vagina bawah dan dinding panggul
- Stadium 4 ---> Menjalar ke organ tubuh lain. seperti, Rectum, kandung kencing, paru, hati, dan otak
Pemeriksaan Penunjang
Sebagai pemeriksaan penunjang sebaiknya di lakukan
- Screening ----> Pap Smear
- Colposcopy
- Biopsi ----> Laboratorium PA
- Untuk mengetahui penyebaran, harus dilakukan CT Scan, Cystoscopy, MRI, Thorax Foto, IVP
Pencegahan
- lakukan Vaksinasi (Juni 2006) , GARDASIL ----> mencegah infeksi H.P.V.
- Menghindari faktor resiko
- melakukan Pap Smear ----> minimal 1 tahun sekali, dengan : 2 hari no coitus, dan beberapa hari setelah menstruasi
Pengobatan
Untuk saat ini yang dapat di lakukan yaitu dengan
- Operasi
- Laser
- Konisasi
- Hysterectomy
- Radikal Hysterectomy
- Radioterapi
- Radiasi eksternal
- Kemoterapi
Kesimpulan
- Kanker Cervix itu sebenarnya dapat dideteksi dini misalnya dengan melakukan Pap Smear
- dapat di cegah
- Dapat disembuhkan (Stadium Dini)
Senin, 22 November 2010
Cemburu Aku
mengertilah, sayangku
rasa ini membakar tenggorokanku
meradang panas mencekat nafas
berdentum-dentum di kepala
buatku terhuyung
segenap cinta sekujur jiwa
melahirkan apa yang kurasa
tatkala aku harus hadapi
hatimu tak sepenuhnya untukku,
ketika keduapuluh jari-jariku
terasa beku dan membiru
saat kau berlari
seraya memeluk keping-keping
hatimu untuknya
tahukah, jatung hatiku
aku harus memeluk tajamnya kenyataan
menelan tanpa mengunyah duri-duri keadaan
melatih hatiku dengan gada dan palu
hingga desir-desirnya terbiasa
saat kau bersamanya
ada atau pun tidak maklumat darimu
terucap atau pun tidak berita janjimu padanya
mengertilah, kasihku
cinta ini sudah jadi milikmu
tak bisa kubunuh demi 'tuk binasakan
rasa kronis berkarat ini
sama seperti kau tak bisa hapuskan dia
dari semat beledu hatimu
lihatlah, empunya jiwaku
aku tetap berdiri tegak di sini
menantimu juga berlari untukku
membasuh memar hatiku
dengan kecupan hangat cintamu
rasa ini membakar tenggorokanku
meradang panas mencekat nafas
berdentum-dentum di kepala
buatku terhuyung
segenap cinta sekujur jiwa
melahirkan apa yang kurasa
tatkala aku harus hadapi
hatimu tak sepenuhnya untukku,
ketika keduapuluh jari-jariku
terasa beku dan membiru
saat kau berlari
seraya memeluk keping-keping
hatimu untuknya
tahukah, jatung hatiku
aku harus memeluk tajamnya kenyataan
menelan tanpa mengunyah duri-duri keadaan
melatih hatiku dengan gada dan palu
hingga desir-desirnya terbiasa
saat kau bersamanya
ada atau pun tidak maklumat darimu
terucap atau pun tidak berita janjimu padanya
mengertilah, kasihku
cinta ini sudah jadi milikmu
tak bisa kubunuh demi 'tuk binasakan
rasa kronis berkarat ini
sama seperti kau tak bisa hapuskan dia
dari semat beledu hatimu
lihatlah, empunya jiwaku
aku tetap berdiri tegak di sini
menantimu juga berlari untukku
membasuh memar hatiku
dengan kecupan hangat cintamu
Sajak CINTA Kita
Tadinya urung niat
saat hendak berkata-kata tentang cinta.
Malu karena mungkin terlalu dini
untuk bersajak dan bermimpi.
Jangan bilang siapa-siapa,
jika sebenarnya aku mau
kamu menyentuhku setiap saat.
Jangan bilang siapa-siapa,
jika aku ingin suatu hari nanti
kamu menjadi ayah dari anak-anakku.
Jangan bilang siapa-siapa,
jika aku bermimpi tercipta dari rusukmu.
Aku tak pandai bersajak.
Tapi semoga sajak ini bisa lafalkan doa
untuk wujudkan mimpi.
saat hendak berkata-kata tentang cinta.
Malu karena mungkin terlalu dini
untuk bersajak dan bermimpi.
Jangan bilang siapa-siapa,
jika sebenarnya aku mau
kamu menyentuhku setiap saat.
Jangan bilang siapa-siapa,
jika aku ingin suatu hari nanti
kamu menjadi ayah dari anak-anakku.
Jangan bilang siapa-siapa,
jika aku bermimpi tercipta dari rusukmu.
Aku tak pandai bersajak.
Tapi semoga sajak ini bisa lafalkan doa
untuk wujudkan mimpi.
Sekantong Penuh Cinta Hari Ini
Aku hanya punya cinta.
Sekantong penuh cinta pada hari ini.
Kadang lihat sendu
ingin kubagi dua jatah cinta hari ini.
Biar sendu rasakan setengahnya cinta.
Aku hanya punya cinta.
Kukumpulkan dari tiap hempasan
nafas tak sengajamu.
Sekantong penuh cinta pada hari ini.
Kubaringkan lelahku di dadamu.
Lalu, sesaat kusadar ada lubang di situ.
Mungkin luka.
Bekas luka lama.
Hitung-hitunganku bekerja keras.
Kurasa cukup sekantong cinta ini
'tuk tambal luka itu.
Ini, kuberikan padamu saja.
Sekantong cinta.
Tidak kubagi dua.
Sekantong penuh.
Besok mungkin bukan nafasmu,
tapi keringatmu yang akan berikan aku.
Sekantong penuh cinta lagi.
Tenang saja, cinta tak akan habis....
Sekantong penuh cinta pada hari ini.
Kadang lihat sendu
ingin kubagi dua jatah cinta hari ini.
Biar sendu rasakan setengahnya cinta.
Aku hanya punya cinta.
Kukumpulkan dari tiap hempasan
nafas tak sengajamu.
Sekantong penuh cinta pada hari ini.
Kubaringkan lelahku di dadamu.
Lalu, sesaat kusadar ada lubang di situ.
Mungkin luka.
Bekas luka lama.
Hitung-hitunganku bekerja keras.
Kurasa cukup sekantong cinta ini
'tuk tambal luka itu.
Ini, kuberikan padamu saja.
Sekantong cinta.
Tidak kubagi dua.
Sekantong penuh.
Besok mungkin bukan nafasmu,
tapi keringatmu yang akan berikan aku.
Sekantong penuh cinta lagi.
Tenang saja, cinta tak akan habis....
DIA DATANG MALAM INI
Angin berkesiur cepat. Menebarkan aroma dingin. Rumpun asoka di halaman depan bergoyang. Samar terlihat seperti tangan-tangan setan melambai. Mengajaknya pergi ke suatu tempat, sekadar menghilangkan kepenatan. Tidak hanya terpaku menanti kehadiran seseorang di ambang pintu yang kerap terbuka.
Almira menghela napas panjang. Ia tidak lagi berdiri di ambang. Ia putuskan duduk di sofa setelah lelah hanya berdiri. Pintu tetap ia biarkan terbuka lebar. Meski keyakinan pada diri mulai menipis.
Suaminya tidak akan pulang malam ini. Seperti malam-malam kemarin. Penantiannya akan berujung pada kesiaan. Padahal betapa ia berharap, ada sesosok membuka pintu pagar yang tidak pernah ia gembok. Sesosok itu mendekat padanya. Merangkumnya erat dalam dekapan. Mendaratkan ciuman hangat pada bibirnya. Di antara desah napas yang makin memburu, sesosok itu mengajaknya memuncaki bulan seperti di awal-awal pernikahan mereka. Tapi tak pernah. Sampai ia tertidur di sofa, lalu pagi membangunkannya, sesosok itu tak pernah pulang lagi. Apalagi mengajak memuncaki bulan.
Almira menatap jam dinding. Tengah malam tepat. Dimana suaminya sekarang? Apa yang sedang ia lakukan? Mabuk-mabukan di sebuah pub? Menggoyangkan tubuhnya serupa cacing kepanasan di sebuah diskotik? Atau seperti bisik-bisik tetangga, tengah memuncaki bulan dengan seorang perempuan yang ia kutip dari pinggir jalan?
Almira mendegut ludah. Omongan tetangga tidak saja membuat telinga panas, tapi sudah membakar hati. Mengelus dada, pilihan terakhir yang dia ambil, setelah berusaha bertanya pada suaminya. Karena selalu menanyakan kebenaran itu sama saja dengan menambah luka bathin. Ucapan suaminya, membuat ia tercampak pada cadas batu. Mengingatkan kalau ia tidak sempurna sebagai seorang perempuan.
Sepuluh tahun mengarungi lautan pernikahan, suaminya tidak hanya butuh tubuh hangatnya di malam-malam sunyi, atau menyiapkan makanan di meja dan mengurus segala keperluannya. Suaminya menginginkan anak darinya. Itu yang tidak bisa ia beri. Karena ia tak lebih seperti ilalang, tumbuh subur tanpa pernah berbunga apalagi berbuah.
Dari sofa, Almira menatap keluar. Hitam berjelaga. Samar berbayang bunga asoka melambai-lambai tertiup angin yang semakin kencang. Angin itu seolah mengabarkan, hujan hampir tiba.
Tidak lebih lima menit kemudian, hujan benar-benar sampai. Ia mampir di atap rumah Almira, di halaman depan, bahkan juga mampir pada tangan-tangan asoka yang terus melambai.
Angin terasa lebih kencang lagi basah. Dingin semakin mengental. Almira putus harapan. Suaminya tidak akan pulang lagi malam ini. Tidak mungkin dalam cuaca sekacau ini, suaminya berlari menerobos hujan dan dingin hanya untuk berlabuh pada tubuhnya yang juga dingin.
Akhirnya Almira menutup pintu depan. Sebelum membuka pintu kamar lirikan matanya membentur jam dinding. Pukul 02.25 WIB.
Malam ini, lagi-lagi Almira akan bercinta bersama sepi, di atas ranjangnya sendiri.
Almira membuka daun pintu lebar-lebar. Membiarkan angin malam berebut masuk. Beberapa angin itu mengelus wajah dan tubuhnya, sehingga rambut dan rok yang ia kenakan seperti menari-nari ke belakang.
Almira berdiri tepat di ambang. Menatap pada langit, yang lebih mirip karpet hitam terbentang lebar. Entah kemana bulan juga bintang pergi malam ini. Mereka hanya meninggalkan hitam pada langit.
Angin bertiup lebih kencang lagi. Suaranya mendesis-desis di telinga Almira. Ia menelan nafas pelan-pelan. Kemana lagi suaminya pergi malam ini? Terkadang, Almira malas menebak-nebak. Karena pada akhirnya, selalu ia tidak tahu apakah tebakannya benar atau tidak. Karena setiap kali ia bertanya pada suaminya, bukan jawaban yang ia terima. Justru suaminya akan mencampakkan Almira pada cadas batu. Padahal Almira sudah cukup senang, andai suaminya mau menjawab. Walau ia harus mendengar jawaban dusta.
Almira bersandar pada sisi pintu dengan mendekap tangan di dada. Sunyi terasa mencekik perasaan. Saat seperti ini, ia ingin suaminya ada di sampingnya. Tidak perlu merayunya dengan ucapan beraroma anggur memabukkan. Cukup jemari tangan mereka saling mengulum dan mata mereka menatap sepenuh kagum pada bocah yang belajar merangkak di lantai. Lalu Almira akan terpekik bahagia ketika dari mungil bibir si bocah itu terucap kata mama dengan nada patah dan kaku.
Impian sangat sederhana, tapi tak akan pernah bisa terwujud. Ia bukan perempuan sempurna. Sejak sembilan tahun lalu dokter sudah membuat segalanya mustahil ketika mereka mengangkat rahim Almira. Ditambah suaminya menolak tegas, ketika Almira berhasrat mengangkat seorang anak.
Malam semakin mati. Bangkainya berserakan di halaman rumah, meninggalkan aroma dingin. Dingin itu terasa berkeliaran. Menyentuh-nyentuh kulit Almira. Bahkan terkadang terasa sampai mencubiti tulangnya. Tetapi Almira tidak akan menghindarinya dengan cara menutup pintu rapat-rapat lalu bergelung di balik selimut dalam kamar.
Almira tersentak, di hitam langit, ada segaris cahaya berkilau, lalu meletuskan suara guntur. Tipis-tipis hujan menari. Mampir di depan rumah. Ia mendesah. Setiap menunggu suaminya di ambang pintu, mengapa selalu saja diakhiri oleh hujan?
Akan ia mengalah pada hujan, ketika samar ada bayangan yang mendekati pintu pagar. Bayangan itu membuka pintu pagar yang tidak pernah ia gempok Almira dikepung bahagia. Itu pasti suaminya.
Ada senyum di bibir Almira. Bayangan itu sudah menjelma menjadi suaminya, berdiri tepat di hadapannya. Senyum Almira rontok melihat sesuatu di gendongan suaminya.
"Apa itu?"
"Bayi. Untukmu."
"Bayi siapa?"
"Penting bagimu ini bayi siapa?"
Almira mematung, menatap bayi itu. Sigap tangannya menangkap, ketika suaminya menyerahkan padanya.
Suaminya melangkah masuk. Almira mengekor dari belakang.
"Abang katakan dulu, ini bayi siapa?"
"Urus saja. Dulu, kau yang ribut ingin mengadopsi anak."
Almira membuka kain yang menutup wajah bayi itu. Mata bayi itu terbuka, lalu sudut bibirnya memanjang, membentuk sebuah senyuman. Almira tersentak. Wajah itu seperti jelmaan suaminya.
Almira menghela napas panjang. Ia tidak lagi berdiri di ambang. Ia putuskan duduk di sofa setelah lelah hanya berdiri. Pintu tetap ia biarkan terbuka lebar. Meski keyakinan pada diri mulai menipis.
Suaminya tidak akan pulang malam ini. Seperti malam-malam kemarin. Penantiannya akan berujung pada kesiaan. Padahal betapa ia berharap, ada sesosok membuka pintu pagar yang tidak pernah ia gembok. Sesosok itu mendekat padanya. Merangkumnya erat dalam dekapan. Mendaratkan ciuman hangat pada bibirnya. Di antara desah napas yang makin memburu, sesosok itu mengajaknya memuncaki bulan seperti di awal-awal pernikahan mereka. Tapi tak pernah. Sampai ia tertidur di sofa, lalu pagi membangunkannya, sesosok itu tak pernah pulang lagi. Apalagi mengajak memuncaki bulan.
Almira menatap jam dinding. Tengah malam tepat. Dimana suaminya sekarang? Apa yang sedang ia lakukan? Mabuk-mabukan di sebuah pub? Menggoyangkan tubuhnya serupa cacing kepanasan di sebuah diskotik? Atau seperti bisik-bisik tetangga, tengah memuncaki bulan dengan seorang perempuan yang ia kutip dari pinggir jalan?
Almira mendegut ludah. Omongan tetangga tidak saja membuat telinga panas, tapi sudah membakar hati. Mengelus dada, pilihan terakhir yang dia ambil, setelah berusaha bertanya pada suaminya. Karena selalu menanyakan kebenaran itu sama saja dengan menambah luka bathin. Ucapan suaminya, membuat ia tercampak pada cadas batu. Mengingatkan kalau ia tidak sempurna sebagai seorang perempuan.
Sepuluh tahun mengarungi lautan pernikahan, suaminya tidak hanya butuh tubuh hangatnya di malam-malam sunyi, atau menyiapkan makanan di meja dan mengurus segala keperluannya. Suaminya menginginkan anak darinya. Itu yang tidak bisa ia beri. Karena ia tak lebih seperti ilalang, tumbuh subur tanpa pernah berbunga apalagi berbuah.
Dari sofa, Almira menatap keluar. Hitam berjelaga. Samar berbayang bunga asoka melambai-lambai tertiup angin yang semakin kencang. Angin itu seolah mengabarkan, hujan hampir tiba.
Tidak lebih lima menit kemudian, hujan benar-benar sampai. Ia mampir di atap rumah Almira, di halaman depan, bahkan juga mampir pada tangan-tangan asoka yang terus melambai.
Angin terasa lebih kencang lagi basah. Dingin semakin mengental. Almira putus harapan. Suaminya tidak akan pulang lagi malam ini. Tidak mungkin dalam cuaca sekacau ini, suaminya berlari menerobos hujan dan dingin hanya untuk berlabuh pada tubuhnya yang juga dingin.
Akhirnya Almira menutup pintu depan. Sebelum membuka pintu kamar lirikan matanya membentur jam dinding. Pukul 02.25 WIB.
Malam ini, lagi-lagi Almira akan bercinta bersama sepi, di atas ranjangnya sendiri.
***
Siang berkerak. Almira sedang beberes di dapur ketika suaminya datang. Gegas Almira mencuci tangan, melepas celemek yang melekat di tubuh dan merapikan rambut yang pasti berantakan, dengan sisiran tangan kanan. Ia ingin tampil menawan di depan suaminya.
Tanpa menatap, apalagi mengajak bercakap, suaminya masuk ke dalam kamar. Almira mengekor dari belakang, melepas beberapa semacam pertanyaan.
"Abang dari mana?"
"Kerja."
"Sampai dua minggu?"
"Keluar kota ," sahut suaminya, dingin melebihi es. Ia lepas dasi yang mengikat leher. Busana yang ia kenakan sangat rapi, wajahnya sesegar buah yang baru dipetik. Tidak terlihat kusut dan lelah seperti baru pulang dari luar kota.
"Abang tidak pamit. Aku cemas menunggu."
"Apa harus?"
"Tentu saja."
Bibir suaminya merapat. Sama sekali tidak ada celah walau hanya sekadar untuk keluar masuk udara. Setelah melepas baju suaminya telentang di atas ranjang. Kedua matanya memejam.
Almira tidak akan menyerah lalu keluar dari kamar. Kali ini, ia harus tahu darimana saja suaminya selama dua minggu ini. Apa-apa saja yang ia lakukan, dan mengapa ponselnya selalu tidak aktif ketika Almira hubungi.
"Dari mana saja Abang dua minggu ini?"
"Kau ingin tahu?" pada dingin suara itu, Almira mendengar ada campuran rasa jengkel.
"Ya."
"Aku berkemah di depan sebuah sekolah taman kanak-kanak."
"Untuk... apa?"
"Untuk apa katamu? Apa lagi yang bisa kulakukan di sana selain menatapi bocah-bocah mungil itu dan membayangkan betapa bahagianya aku, jika salah satu dari mereka berlari kepadaku seraya meneriakkan kata Papa," ucapan itu, seperti peluru yang muntah dari moncong. Melesat cepat lalu bersarang tepat di jantung Almira.
Tanpa kata, tanpa menatap, Almira mundur, keluar dari kamar. Setelah daun pintu tertutup, tubuhnya bersandar di sana . Kembali suaminya menanam luka di hati Almira. Jika boleh memilih, lebih baik suaminya meninggalkan lembam biru di sudut mata Almira ketimbang harus mendengar ucapan itu. Karena lembam biru itu akan tersaput oleh waktu. Sementara ucapan itu akan tetap bersarang di hati Almira.
Tanpa menatap, apalagi mengajak bercakap, suaminya masuk ke dalam kamar. Almira mengekor dari belakang, melepas beberapa semacam pertanyaan.
"Abang dari mana?"
"Kerja."
"Sampai dua minggu?"
"Keluar kota ," sahut suaminya, dingin melebihi es. Ia lepas dasi yang mengikat leher. Busana yang ia kenakan sangat rapi, wajahnya sesegar buah yang baru dipetik. Tidak terlihat kusut dan lelah seperti baru pulang dari luar kota.
"Abang tidak pamit. Aku cemas menunggu."
"Apa harus?"
"Tentu saja."
Bibir suaminya merapat. Sama sekali tidak ada celah walau hanya sekadar untuk keluar masuk udara. Setelah melepas baju suaminya telentang di atas ranjang. Kedua matanya memejam.
Almira tidak akan menyerah lalu keluar dari kamar. Kali ini, ia harus tahu darimana saja suaminya selama dua minggu ini. Apa-apa saja yang ia lakukan, dan mengapa ponselnya selalu tidak aktif ketika Almira hubungi.
"Dari mana saja Abang dua minggu ini?"
"Kau ingin tahu?" pada dingin suara itu, Almira mendengar ada campuran rasa jengkel.
"Ya."
"Aku berkemah di depan sebuah sekolah taman kanak-kanak."
"Untuk... apa?"
"Untuk apa katamu? Apa lagi yang bisa kulakukan di sana selain menatapi bocah-bocah mungil itu dan membayangkan betapa bahagianya aku, jika salah satu dari mereka berlari kepadaku seraya meneriakkan kata Papa," ucapan itu, seperti peluru yang muntah dari moncong. Melesat cepat lalu bersarang tepat di jantung Almira.
Tanpa kata, tanpa menatap, Almira mundur, keluar dari kamar. Setelah daun pintu tertutup, tubuhnya bersandar di sana . Kembali suaminya menanam luka di hati Almira. Jika boleh memilih, lebih baik suaminya meninggalkan lembam biru di sudut mata Almira ketimbang harus mendengar ucapan itu. Karena lembam biru itu akan tersaput oleh waktu. Sementara ucapan itu akan tetap bersarang di hati Almira.
***
| Angin berkesiur cepat. Menebarkan aroma dingin. Rumpun asoka di halaman depan bergoyang. Samar terlihat seperti tangan-tangan setan melambai. |
Almira berdiri tepat di ambang. Menatap pada langit, yang lebih mirip karpet hitam terbentang lebar. Entah kemana bulan juga bintang pergi malam ini. Mereka hanya meninggalkan hitam pada langit.
Angin bertiup lebih kencang lagi. Suaranya mendesis-desis di telinga Almira. Ia menelan nafas pelan-pelan. Kemana lagi suaminya pergi malam ini? Terkadang, Almira malas menebak-nebak. Karena pada akhirnya, selalu ia tidak tahu apakah tebakannya benar atau tidak. Karena setiap kali ia bertanya pada suaminya, bukan jawaban yang ia terima. Justru suaminya akan mencampakkan Almira pada cadas batu. Padahal Almira sudah cukup senang, andai suaminya mau menjawab. Walau ia harus mendengar jawaban dusta.
Almira bersandar pada sisi pintu dengan mendekap tangan di dada. Sunyi terasa mencekik perasaan. Saat seperti ini, ia ingin suaminya ada di sampingnya. Tidak perlu merayunya dengan ucapan beraroma anggur memabukkan. Cukup jemari tangan mereka saling mengulum dan mata mereka menatap sepenuh kagum pada bocah yang belajar merangkak di lantai. Lalu Almira akan terpekik bahagia ketika dari mungil bibir si bocah itu terucap kata mama dengan nada patah dan kaku.
Impian sangat sederhana, tapi tak akan pernah bisa terwujud. Ia bukan perempuan sempurna. Sejak sembilan tahun lalu dokter sudah membuat segalanya mustahil ketika mereka mengangkat rahim Almira. Ditambah suaminya menolak tegas, ketika Almira berhasrat mengangkat seorang anak.
Malam semakin mati. Bangkainya berserakan di halaman rumah, meninggalkan aroma dingin. Dingin itu terasa berkeliaran. Menyentuh-nyentuh kulit Almira. Bahkan terkadang terasa sampai mencubiti tulangnya. Tetapi Almira tidak akan menghindarinya dengan cara menutup pintu rapat-rapat lalu bergelung di balik selimut dalam kamar.
Almira tersentak, di hitam langit, ada segaris cahaya berkilau, lalu meletuskan suara guntur. Tipis-tipis hujan menari. Mampir di depan rumah. Ia mendesah. Setiap menunggu suaminya di ambang pintu, mengapa selalu saja diakhiri oleh hujan?
Akan ia mengalah pada hujan, ketika samar ada bayangan yang mendekati pintu pagar. Bayangan itu membuka pintu pagar yang tidak pernah ia gempok Almira dikepung bahagia. Itu pasti suaminya.
Ada senyum di bibir Almira. Bayangan itu sudah menjelma menjadi suaminya, berdiri tepat di hadapannya. Senyum Almira rontok melihat sesuatu di gendongan suaminya.
"Apa itu?"
"Bayi. Untukmu."
"Bayi siapa?"
"Penting bagimu ini bayi siapa?"
Almira mematung, menatap bayi itu. Sigap tangannya menangkap, ketika suaminya menyerahkan padanya.
Suaminya melangkah masuk. Almira mengekor dari belakang.
"Abang katakan dulu, ini bayi siapa?"
"Urus saja. Dulu, kau yang ribut ingin mengadopsi anak."
Almira membuka kain yang menutup wajah bayi itu. Mata bayi itu terbuka, lalu sudut bibirnya memanjang, membentuk sebuah senyuman. Almira tersentak. Wajah itu seperti jelmaan suaminya.
Langganan:
Postingan (Atom)